Pages

Showing posts with label pembelajaran kontekstual. Show all posts
Showing posts with label pembelajaran kontekstual. Show all posts

4/30/2013

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF BERBASIS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL.

Terdapat sejumlah model pembelajaran efekktif berbasis kontekstual yang dapat diguanakan dalam proses pembelajaran di SD, diantaranya yaitu pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran kooperatif dengan berbagai tipenya, (seperti Student-Teams Achievement Divisions/STAD (Tim Siswa Kelompok Prestasi),
JIGSAW (Model Tim Ahli) dan GI (Group Investigation), think-pair and share, numbered head together, picture and picture, examples non examples, pengajaran berbasis inkuiri, pengajaran berbasis tugas/proyek (Project based learning), demonstration, role playing, pemodelan (modelling), dsb.
Dalam naskah ini hanya akan dibahas tiga diantaranya secara singkat, yaitu :
1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Pengajaran berbasis masalah, menurut Ibrahim dan Nur (2002) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teaching (Pembelajaran berbasis Project), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentic). Danm Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata). Peranan guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah dan bagaimana peranan nguru di dalamnya dapat digambarkan sbb.
Tahapan Tingkah laku
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah
Guru menjelasakan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
Tahap 2
Mengorganisir siswa untuk Belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dsb.)
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah
Tahap 4
Mengembangkan dan menanyakan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan, menyiapkan karya yang sesuai sperti laporan, dan membantu mereka berbagai tugas dengan temannya
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prosesprosesyang mereka gunakan.
2. Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model Student Teams Achievement (Tim Siswa Kelompok Prestasi) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawankawannya.
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan pembelajaran STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal manupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim masingmasing terdiri atas 4 atau 5 orang anggota kelompok yang bersifat heterogen (baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun potensi akademik/kemampuannya). Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai
bahan ajar melalui Tanya jawab atau diskusi antar sesame anggota kelompok. Secara periosik. Dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan mereka (baik individual maupun kelompok) terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Setiap siswa atau tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skorvsempurna diberi reinforcement.
Secara singkat langkah-langkah pembelajaran STAD terdiri atas:
a. Mmembentuk kelompok heterogen a 4-5 orang anggotanya
b. Guru menyajikan pelajaran
c. Guru memberi tugas
d. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada csaat menjawab kuis, tidak dibolehkan siswa saling membantu.
e. Memberi evaluasi
f. Kesimpulan
3. Model Jigsaw (Model Tim Ahli)
Model Jigsaw dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan-kawannya dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Seperti halnya pada m,odel STAD, pada model Jigsawpun, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok/tim a 4-5 orang anggotanya yang bersifat heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa diberi tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai kelompok/tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian bahan akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan tertsebut. Kelompok siswa yang dimaksud disebut ”kelompok pakar (expert group)”. Sesudah kelompok pakar berdiskusi dan menyelesaikan tugas, maka anggota dari kelompok pakar ini kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar (membuat mengerrti) anggota lain dalam kelompok semula tersebut.
Secara sinbgkat, langkah-langkah pembelajaran Jigsaw terdiri atas :
a. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen a 4-5 orang
b. Tim anggota dalam kelompok/tim diberi bagian materi yang berbeda
c. Anggota dari tim tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
d. Jika kelompok ahli selesai mendiskusikan tugasnya, maka anggota kelompok kembali ke kelompok asal/semula (home teams) untuk mengajar anggota lainnya dalam kelompok semula
e. Tiap kelompok/tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
f. Guru memberi evaluasi
g. Kesimpulan/penutup
4. Model Group Investigation (GI)
Dasar-dasar metode group investigation (investigasi kelompok) dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya dikembangkan oleh oleh Sharan dan kawan-kawannya.
Dibandingkan dengan model STAD dan Jigsaw, group investigation merupakan model pembelajaran yang lebih kompleks dan paling sulit dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Pada model group investigation, sejak awal siswa dilibatkan mulai dari tahap perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Dalam pelaksanaanya, mempersyaratkan para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Pengelompokan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil a 5-6 orang dapat bersifat heterogen dan dapat juga didasarkan pada kesenangan berteman atau kesamaan minat. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti/melakukan investigasi
mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan
Secara singkat langkah-langkah group investigation adalah sbb. :
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan
e. Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikanhasil pembahasan kelompok
f. Guru mwmbwri penjelasan singkat dan sekaligus memberikan kesimpulan
g. Penutup.
D. PENUTUP
Disamping mnode-model pembelajaran yang dikemukakan di atas, dalam konteks pembelajaran masih tersedia cukup banyak model-model pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru di kelas. Sebagai guru yang profesional, seyogianya setiap guru selalu berupaya mengembangkan/meningkatkan kemampuannya dengan mengkaji berbagai model pembelajaran tersebut dan yang tidak kurang pentingnya adalah menuntut komitmen dari setiap guru untuk senantiasa memilih dan menerapkan model pembelajaran yang terbaik untuk kepentingan peserta didik

11/09/2012

Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Problem Solving dan Konvensional Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa (Studi Eksperimental di SMA Negeri Kabupaten Sukoharjo)

ABSTRAK
SRI INDRATI. NIM: S861108015. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual dengan Metode Problem Solving dan Konvensional Terhadap Prestasi Belajar Sejarah Ditinjau dari Kreativitas Belajar Siswa (Studi Eksperimental di SMA Negeri Kabupaten Sukoharjo). TESIS. Pembimbing I: Prof. Dr.Sugiyanto, II: Drs. Saiful Bachri,M.Pd. Program Studi Pendidikan Sejarah, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret.

Kebanyakan siswa SMA negeri yang kurang favorit di kabupaten Sukoharjo mempunyai hasil belajar yang rendah. Hal ini disebabkan guru masih menggunakan metode pengajaran konvensional, dan tingkat kreativitas belajar siswa rendah. Untuk meningkatkan prestasi belajar sejarah perlu metode pembelajaran problem solving. Penelitian ini bertujuan mengetahui ada atau tidak adanya : 1). Perbedaan pengaruh metode pembelajaran problem Solving dan konvensional terhadap prestasi belajar sejarah; 2). Perbedaan prestasi belajar sejarah antara siswa yang mempunyai kreativitas belajar baik, sedang, dan kurang baik; 3). Pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar sejarah.
Berdasarkan tujuannya penelitian ini adalah studi eksperimental. Populasi semua siswa kelas XI IPS semester 1 SMA Negeri yang kurang favorit di kabupaten Sukoharjo tahun ajaran 2012/2013. Sampel diambil dengan teknik cluster random sampling sebanyak tiga sekolah dan setiap sekolah diambil satu kelas eksperimen dan satu kelas kontrol. Kelas eksperimen sebanyak 107 siswa dan kelas kontrol sebanyak 106 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan tes. Teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekolah yang kurang favorit di kabupaten Sukoharjo. Teknik tes digunakan untuk memperoleh data kreativitas dan prestasi belajar sejarah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis variansi dua jalan dengan sel tidak sama, dilanjutkan dengan uji lanjut komparasi ganda metode Scheffe.
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1). Ada perbedaan pengaruh metode pembelajaran problem solving dan konvensional terhadap prestasi belajar (FA = 9,14 > Ftabel = 3,98). Dari uji Scheffe diperoleh Fhitung = 4,10 > (dk  Ftabel) = 3,89, sehingga prestasi belajar dengan metode problem solving lebih baik dibandingkan metode konvensional; 2). Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang mempunyai kreativitas belajar baik, sedang, dan kurang baik (FB = 175,77 > Ftabel = 3,04). Dari uji Scheffe diperoleh: FB1B2 = 95,77 > (dk  Ftabel) = 6,12), FB1B3 = 262,76 > (dk  Ftabel) = 6,26; F B2B3 = 108,29 > (dk  Ftabel) = 6,12. Sehingga prestasi belajar siswa berkreativitas baik (B1) lebih baik dibanding siswa berkreativitas sedang (B2), dan lebih baik dibandingkan siswa berkreativitas kurang baik (B3). 3). Tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dan kreativitas belajar siswa terhadap prestasi belajar sejarah (FAB = 0,80 < Ftabel = 3,04). Jadi metode pembelajaran dan kreativitas belajar siswa mempunyai pengaruh sendiri-sendiri terhadap prestasi belajar sejarah.
Kata Kunci : metode problem solving, metode konvensional, kreativitas belajar.
ABSTRACT
Sri Indrati. 2013. Effect Of Contextual Learning Model With Problem Solving Methods And Conventional Against Achievement Learning History Viewed From Creativity Learning Students. THESIS. Supervisor I: Prof. Dr. Sugiyanto, II: Drs. Saiful Bachri, M.Pd. Studies Program History Education, Graduate, Sebelas Maret University Surakarta.
Mostly senior high school students negeri are less favorite in Sukoharjo district has a low learning outcomes. This is caused teachers are still using conventional teaching methods, monotonic, teacher centered, and levels of creativity of students learning a low. For the improve history learning achievement need to method of learning problem solving. This research aims to find out presence or absence of: (1). The difference influence of learning methods of problems solving and conventional against history learning achievement; (2). The difference of learning history achievement between students who has of creativity learned is good, medium and less well; (3). Interaction between learning method and creativity learn students on the learning history achievement.
This study used experiment method with factorial design 2 x 3 with the not same cell. The population is all students of class XI IPS of semester 1 SMA negeri which less favorite in district Sukoharjo school year 2012/2013.The sample was taken with a cluster random sampling technique as much three schools and every school taken one experiment class and one control class. The experimental class as much 107 students and control class as much 106 students. Data collection techniques using documentation and tests. Techniques documentation used to obtain data are less favorite schools in the district Sukoharjo. Test technique is used to obtain the data of creativity and achievement to learn the history. Data analysis technique used is the of analysis variance two-way with the same not cell, continued with the further test of Scheffe method multiple comparison.
Based on the results of data analysis can conclude: (1). There are influence of learning methods of problems solving and conventional against learning achievement (FA = 9,14 > Ftable = 3,98). From obtained Scheffe test Fcount = 4,10> (df x Ftable) = 3,89, so the learning achievement by problem solving method better compared conventional method; (2). There are influence of learning history achievement between students who has of creativity learned is good, medium and less well (FB = 175,77 > Ftable = 3,04). From obtained Scheffe test : FB1B2 = 95,77 > (df  Ftable) = 6,12), so the learning achievement student good creativity (B1) better compared of creativity moderate student (B2); FB1B3 = 262,76 > (df  Ftable) = 6,26, so the learning achievement student good creativity (B1) better compared of creativity less well student (B3); F B2B3 = 108,29 > (df  Ftable) = 6,12, so the learning achievement student moderate creativity (B2) better compared of creativity less well student (B3); (3). There is no interaction between learning method and creativity learn students on the learning history achievement (FAB = 0,80 < Ftable = 3,04). So the method of learning and learning creativity student have own influence on the history achievement.

 

PTK

PTK adalah Penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. PTK dilakukan berhubungan dengan proses belajar mengajar di sekolah. PTK ini merupakan suatu kewajiban bagi guru untuk melakukanya sehingga nantinya didapat solusi-solusi yang ilmiah dalam mengatasi permasalahan di dalam kelas baik dari penyampaian materi,kemampuan daya serap siswa dan lain-lain.
Adapun ciri-ciri dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah :
  1. Adanya masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran pada guru bahwa praktek yang dilakukan selama ini di kelas mempunyai masalah yang perlu diselesaikan
  2. Self-reflective Inquiry (Penelitian melalui refleksi diri). PTK dilakukan dalam kelas sehingga fokus penelitian ini adalah kegiatan pembelajaran berupa prilaku guru dan siswa dalam melakukan interaksi.
  3. PTK bertujuan untuk memperbaiki pelajaran
  4. Bersifat partisipatif: PTK melibatkan para pelaksana program sehari-hari sebagai partisipan
  5. Bersifat Kolaboratif: Perencanaan Intervensi dan evaluasi hasil intervensi dilakukan bersama-sama
  6. Melalui putaran-putaran berspiral: perencanaan tidankan dilanjutkan pelaksanaan tindakan dan pengamatan terhadap asli tindakan diteruskan refleksi berdasarkan hasil pengamatan kemudian perencanaan tindakan berikutnya dan seterusnya.
SISTEMATIKA LAPORAN PTK
  • HALAMAN JUDUL
  • HALAMAN PENGESAHAN
  • ABSTRAK
  • KATA PENGANTAR
  • DAFTAR ISI
  • DAFTAR TABEL (JIKA ADA)
  • DAFTAR LAMPIRAN
  • DAFTAR GAMBAR (JIKA ADA)
  • BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D.Manfaat Penelitian
  • BAB  II. KAJIAN PUSTAKA/TEORITIS
A.Teori yang relavan
B. Hipotesis Tindakan
  • BAB III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
B. Bentuk Penelitian
C. Subyek Penelitian
D. Rancangan Penelitian
E. Instrumen Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data
G. Teknik Analisis Data
  • BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
  • BAB V.   KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B.  Saran
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN
Silabus
RPP
LKS/LTS (Jika Ada)
Kisi – kisi Soal / Angket
Soal/Angket
Hasil Test/Angket
Hasil Pengamatan