Kurikulum 2013

 

Kurikulum Baru Tambah Beban Ajar Guru

 

JAKARTA - Perubahan kurikulum akan menambah beban mengajar guru karena pola mengajar akan diperbanyak di luar kelas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, pemerintah akan merevisi Peraturan Pemerintah No 74/2008 tentang Guru pasal 52 ayat 2.
Dalam peraturan itu disebutkan beban kerja guru paling sedikit memenuhi 24 jam tatap muka dan paling banyak 40 jam tatap muka dalam seminggu. Evaluasi ini diperlukan mengingat beban kerja guru akan bertambah seiring pelaksanaan kurikulum baru tahun depan.

Dia menjelaskan, penambahan beban ini sebagai dampak metode pengajaran di SD yang menerapkan pola tematik integrative, yakni SMP mengedepankan pada keterampilan dan SMA/SMK pada aplikasi ilmu pengetahuan. Selain itu, guru juga lebih banyak mengajar di ruang kelas karena strategi peningkatan efektivitas pembelajaran mengedepankan pengalaman personal melalui observasi.

“Oleh karena itu, ke depan, segala tugas guru di luar kelas, seperti evaluasi proses akan dikonversi ke dalam pengakuan. Sehingga, beban kerja guru tidak hanya dihitung saat yang bersangkutan mengajar tatap muka di depan kelas. Berapa jam mereka melakukan proses penilai itu juga harus diperhatikan dan dihitung. Sehingga, yang sekarang 24 jam tatap muka dikelas bisa jadi berubah karena mereka memerlukan persiapan dan evaluasi diluar," kata M Nuh di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, kemarin.

M Nuh menjelaskan, kementerian tetap mengharapkan partisipasi masyarakat untuk memberikan masukan, saran, serta kritik terhadap draf kurikulum. Masyarakat dapat berkomentar dan melihat draf uji publik tersebut melalui http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id.buku.

Sementara persiapan mendasar yang saat ini sedang dikerjakan oleh kementerian ialah pembuatan buku pegangan untuk murid dan guru. Pasalnya, buku panduan untuk guru tersebut harus rampung sebelum pelatihan kepada para guru itu dilakukan.

Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) itu menyambut baik respon masyarakat yang mengakses laman uji publik yang hingga kini sudah mencapai 1.332 komentar. Dia menilai, dari berbagai tanggapan yang masuk dia melihat substansi kurikulum baru tidak banyak yang keberatan namun yang menjadi perhatian luas adalah dari sisi implementasinya.

”Tadi pagi saya baca (tanggapan) dari sebuah yayasan. Jumlah semua mata pelajaran oke, tetapi pastikan terkait budi pekerti masuk (kurikulum). Itu kontribusi positif yang kita harapkan,” terangnya. ( agus.3108 )

 Penyebab Kurikulum Pendidikan RI Sering Gagal

JAKARTA - Kurikulum baru yang masih dalam tahap pematangan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bukanlah pergantian kurikulum yang pertama. Indonesia telah mengalami sejumlah pergantian kurikulum yang didesain agar sesuai zaman.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo menyebutkan, dari sejumlah pergantian kurikulum yang terjadi di Tanah Air, nilai kegagalan kurikulum di Indonesia cukup tinggi. Dia menekankan, kegagalan ini terjadi akibat sang guru tidak dapat mengimplementasikan kurikulum tersebut kepada anak didik mereka.

"Berdasarkan pengalaman perubahan kurikulum yang lalu, prosesnya tidak dilakukan dengan baik sehingga sering gagal. Pergantian kurikulum itu gagal ketika guru tidak mampu mengimplementasikannya karena sesungguhnya hakikat kurikulum ada di guru," tutur Sulis selepas peringatan Hari Guru Nasional dan Ulang Tahun PGRI ke-67 di Wisma Guru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2012).

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah dapat menyatakan diri siap untuk melaksanakan kurikulum baru. Namun, jika tidak didukung kesiapan yang sama dari pihak tenaga pendidik, yaitu para guru, maka hasilnya tidak akan maksimal.

"Pak Menteri bisa bilang kurikulum siap dilaksanakan pun dengan Irjen dan kepala-kepala dinas. Tapi ketika guru belum mampu, artinya tidak ada perubahan kurikulum. Kurikulum yang baik tidak mampu berbunyi ketika guru tidak mampu melaksanakannya," ujarnya.

Mengacu kepada kurikulum saat ini, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tentu ada kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh kurikulum yang akan mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2012/2013  itu.

"Masing-masing punya kelebihan. Kurikulum KTSP itu bagus karena guru punya keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum sulit. Namun, pada dasarnya kurikulum pun harus disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan saat ini," ungkap Sulis.

Dia menyatakan, sangat sulit untuk mengevaluasi mengenai keberhasilan sebuah kurikulum. Tapi, tambahnya, hal ini bisa dilakukan melalui evaluasi langsung oleh kepala sekolah (kepsek) dan pengawas. "Masalahnya, kepsek dan pengawas harus dibekali kompetensi untuk memberi pencerahan bagi para guru dan melakukan evaluasi atas hasil tersebut," imbuhnya. ( agus.3108 )

Guru Harus Pahami Kurikulum Baru


 JAKARTA - Wacana perubahan kurikulum masih bergulir. Pro kontra pun bermunculan mengingat belum lama ini Indonesia mengubah kurikulum pendidikan nasional menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).

Pengamat pendidikan Prof. Soedijarto menilai, hal terpenting dalam perubahan kurikulum adalah implementasi dalam kegiatan belajar mengajar. Pertanyaan besarnya, kata Soedijarto, apakah guru yang mengajar sudah mengerti dengan kurikulum baru yang akan diterapkan atau tidak? Selayaknya, sebelum diaplikasikan kepada anak didik, kurikulum baru tersebut nantinya diimplementasikan ke kalangan tenaga pengajar. Mereka pun harus benar benar paham dengan kurikulum baru ini, agar kualitas guru semakin tinggi.

"Jadi percuma jika kurikulum berubah tetapi proses pembelajaran tidak berubah. Sebab, pelaksanaan perubahan kurikulum  bukan cuma di atas kertas," ujar Soedijarto ketika berbincang dengan Okezone, Senin (26/11/2012).

Guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini mengingatkan, biaya anggaran perubahan kurikulum ini tidaklah sedikit. Karenanya, sayang sekali jika biaya sebesar itu tidak menghasilkan produk kurikulum sesuai tujuan.

Dia berharap, perubahan kurikulum dapat mengarahkan perubahan pada semua proses pembelajaran. Tidak seperti perubahan kurikulum sebelumnya, sebagian sekolah mengikuti perubahan kurikulum, sebagian lainnya tidak. Anehnya, kata Soedijarto, proses pembelajaran masih sama saja.

"Selain dari tenaga pengajarnya, fasilitas penunjang pun harus terpenuhi semua. Agar terlihat perubahannya," katanya.

Soedijarto menyarankan, alangkah baiknya apabila kurikulum baru ini dibuat menyenangkan, menenangkan dan menantang anak didik dalam proses belajar. Konsep ini, kata Soedijarto, sama dengan yang diajarkan mantan Menteri Pendidikan dan Menteri Penerangan Indonesia Mashuri. "Sehingga, siswa pun senang dan bersemangat dalam belajar,' imbuhnya.

Selain itu, idealnya pemerintah mencoba beberapa tahun dalam penerapan sebuah kurikulum baru. Jika kondisi pendidikan Indonesia tidak mengalami perubahan, maka evaluasi yang kontinyu perlu dijalankan agar kurikulum yang diterapkan pun efektif dan berhasil. ( agus.3108 )

Perubahan Kurikulum, PGRI Tidak Dilibatkan

 JAKARTA - Pergantian kurikulum yang dicanangkan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentu menuai banyak reaksi. Meski pekan ini Kemendikbud akan melakukan uji publik terhadap kurikulum tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mengaku tidak mengetahui secara detail penyusunan kurikulum baru ini.

"PGRI belum dapat info memadai tentang kurikulum baru ini karena memang dari awal tidak ikut serta di dalamnya. Namun, kami memberikan masukan lisan maupun tertulis kepada pemerintah," kata Ketua PGRI Sulistiyo selepas peringatan Hari Guru Nasional dan Ulang Tahun PGRI ke-67 di Wisma Guru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (26/11/2012).

Sulis menegaskan, kebijakan publik yang akan dilakukan Kemendikbud terkait kurikulum baru dapat benar-benar dimanfaatkan bagi pemerintah untuk menampung pendapat dari para guru maupun pemerhati pendidikan lainnya. "Kami menunggu uji publik dan saya himbau kepada jajaran PGRI untuk memberi saran atau pendapat saat uji publik nanti. Semoga bukan formalitas saja, tapi uji publik benar untuk menggali pendapat dari para guru," ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah sedang menggodok formula kurikulum baru sebagai pengganti kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang kini dipakai. Akhir November ini, Kemendikbud akan melakukan uji publik terhadap kurikulum baru tersebut. Sementara itu, penerapan kurikulum baru akan dilakukan secara bertahap.( agus.3108 )
 

  Kurikulum 2013 Pakai Pendekatan Tematik Integratif 

 JAKARTA - Akhir November lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum baru yang akan diterapkan 2013 mendatang. Website Kemendikbud pun menampung beragam pro dan kontra terkait rancangan kurikulum baru ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyatakan, komentar-komentar tersebut akan dijadikan bahan pertimbangan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Nuh mengingatkan, kurikulum adalah ranah akademik, bukan ranah politik. "Jadi, semua persiapan, tradisi, dan persoalan dilakukan secara akademik," kata Nuh di ruang rapat Mendikbud, Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (6/12/2012).

Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu menegaskan, akan banyak hal yang diubah pada kurikulum ini, di antaranya standar kompetensi kelulusan (SKL), standar isi, standar proses dan standar penilaian. Sementara itu, kurikulum 2013, ujar Nuh, akan menggunakan pendekatan tematik integratif. Pendekatan ini memungkinkan satu tema pelajaran dibahas selama empat minggu. 

"Kurikulum tematik integratif ini tidak mengurangi substansi dari pelajaran atau nilai tersebut. Sebenarnya bentuk ini juga sudah digunakan oleh sekolah-sekolah top di Indonesia," tuturnya.

Nuh mengimbuh, penerapan kurikulum untuk tingkat sekolah dasar (SD) lebih menekankan pada keutuhan berpikir, bukan spesialisasi. Dengan demikian, pelajaran yang dahulu disebut ilmu pengetahuan alam (IPA) dan ilmu pengetahuan sosial (IPS), pada kurikulum baru disebut dengan fenomena alam dan fenomena sosial.

"Sekali lagi, ini tidak mengurangi subtansinya," tutur pria yang pernah menjabat sebagai menteri komunikasi dan informatika tersebut. 

Saat ini, penerapan kurikulum 2013 masih dalam tahap persiapan. Kemendikbud pun gencar melakukan sosialisasi dalam rangka pengimplementasiannya. Desember ini, Kemendikbud memfokuskan pembahasan pada kerangka dasar penerapan kurikulum baru. Kemudian, dijadwalkan pada Maret 2013 sudah masuk tahap penyusunan buku babon untuk pegangan guru, dan Juni 2013 mulai implementasi terbatas.

"Diharapkan, tiga tahun kemudian, tepatnya Juni 2016, Kemendikbud dapat menilai implementasi kurikulum 2013 ini," tutur Nuh. ( agus.3108 )

Kurikulum Baru Diuji Publik Awal 2013


Jakarta, Kompas – Penyusunan kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan rampung pada Februari 2013. Sebelum disahkan dan diaplikasikan, pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum itu untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Rabu (19/9), di Jakarta, mengatakan, dua tim sudah dibentuk dan sedang bekerja. ”Hasil kerja dua tim penyusun kurikulum akan diuji publik sebelum Februari 2013. Fase ini tak boleh dilupakan. Pasti akan ada perbedaan pendapat nanti,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Suyanto menambahkan, tim pertama bertugas menyusun kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Adapun tim kedua bertugas menyusun kurikulum pendidikan tinggi.
”Anggota tim terdiri dari Kemdikbud, Badan Standar Nasional Pendidikan, dan tokoh-tokoh pendidikan. Para tokoh itu yang tahu masalah dan tantangan bangsa ke depan,” kata Suyanto.
Tim penyusun juga mengevaluasi kurikulum yang berlaku saat ini. Misalnya, soal banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari siswa, jam sekolah, hingga mencari penyebab mengapa sering terjadi tawuran siswa, rendahnya kemampuan siswa berbahasa asing, serta berbagai persoalan lain.
Sampai saat ini, tim sedang membahas penentuan kompetensi lulusan siswa di setiap jenjang pendidikan. ”Akan diperjelas juga karakter spesifik apa yang hendak dibentuk, misalnya nilai-nilai kejujuran dan kedisiplinan,” katanya.
Racikan sendiri
Agar bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa, kurikulum yang disusun pun harus sesuai dengan identitas Indonesia. Hal ini, kata Nuh, berarti kurikulum yang baru tidak akan berkiblat pada kurikulum negara tertentu. Meski begitu, tim penyusun kurikulum diminta mempelajari kurikulum negara lain, terutama anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), antara lain Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Finlandia.
”Kita tidak berkiblat pada negara mana pun, tetapi kita pelajari semuanya, termasuk negara yang gigih terhadap pendidikan karakter kebangsaan, seperti Korea dan Jepang, yang termasuk negara maju tetapi identitas dirinya sangat kuat. Intinya, tidak serta-merta yang ada di luar itu kita fotokopi. Semua kita pelajari dan ramu,” papar Nuh. ( agus.3108 )

 

Kemendikbud Rancang Kurikulum Berbasis Pendidikan Karakter

Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan merencanakan pembuatan kurikulum pendidikan nasional baru dengan lebih menitikberatkan pada pendidikan karakter. Selain itu, Kemendikbud juga akan memangkas jumlah mata pelajaran; sehingga peserta didik tak terbebani beban studi.

Menurut Wamendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim, kurikulum pendidikan yang tengah berlaku sekarang membebani peserta didik dengan jumlah mata pelajaran yang banyak. "Itu yang kita sinyalir menjadi beban dan membuat siswa menjadi bosan dengan pelajaran di sekolah," ujar Musliar, seperti dilansir dari Antara, Jumat (28/09).

Kurikulum baru tersebut tengah disusun oleh tim khusus, yang terdiri atas para pakar dan tokoh pendidikan seperti Pst Franz Magnis Suseno dan Prof Juwono Sudarsono. "Kurikulum itu akan lebih menekankan model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada pendidikan karakter," kata Musliar.

Pendidikan karakter akan mulai diperkenalkan sejak siswa duduk di tingkat Sekolah Dasar. "Di tingkat SD, pendidikan karakter akan mendapat porsi yang banyak. Nah, semakin tinggi jenjangnya, nanti pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan," pungkasnya. [ryn]


Kurikulum Pendidikan Baru Diharapkan Ubah Model Pembelajaran
 @IRNewscom | Jakarta: PENYUSUNAN kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan memberikan perubahan pada model pembelajaran yang dapat memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya. Harapan itu disampaikan Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti, seperti dilansir dari Antara, Jumat (28/09).

Menurut Wiendu, pembangunan karakter sebagai sentral pendidikan nasioanl harus disinergikan dengan kebudayaan. "Target pendidikan karakter ini bukan hanya untuk peserta didik, tapi juga guru dan komunitas-komunitas budaya di masyarakat," katanya.

Ia memaparkan, pemerintah akan melaksanakan kegiatan Gerakan Nasional Pembangunan Karakater Bangsa melalui program penanaman nilai budaya di lingkungan sekolah, yang dilaksanakan di 10 provinsi, antara lain DKI Jakarta, Aceh, Banten, Jawa Barat, NTB dan Maluku. "Peserta didik akan diajak mengenal kembali kearifan lokal setempat, misalnya budaya gotong royong," papar Wiendu.

Penyusunan kurikulum pendidikan nasional yang baru diharapkan rampung pada Februari 2013. "Sebelum disahkan dan diaplikasikan, pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum itu untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat," pungkas Wiendu. 
( agus.3108 )

No comments:

Post a Comment

Thank's for yours comment !